Kontak | Indonesia | English

Beranda > Keuanganku > Mengenal Lembaga serta Produk Dan Jasa Keuangan > Resolusi Tahun Baru: Punya Passive Income

Share

RESOLUSI TAHUN BARU: PUNYA PASSIVE INCOME



Tahun baru, resolusi baru, pencapaian baru. Ada yang punya resolusi di tahun 2020 ini bisa punya passive income? Alias kita gak perlu ngapa-ngapain tapi tetap dapat pemasukkan.

Punya passive income itu mungkin banget Sobat. Karena kalau hanya mengandalkan active income alias gaji bulanan dari pekerjaan kita, berapa lama kira-kira kita bisa bertahan dengan uang tersebut jika sudah berhenti bekerja?

Passive income ini terdengar menarik bukan? Untuk punya passive income yang “menjanjikan” harus ada persiapan yang matang di awal, kalau persiapannya sudah baik nanti income-nya akan mengalir dengan baik juga ke kita. Salah satu cara untuk mendapatkan passive income adalah dengan berinvestasi pada aset-aset yang menghasilkan seperti investasi saham, reksa dana, properti, emas, dan masih banyak lagi.

 

Sobat mau coba jenis investasi yang lain? Ada Equity Crowdfunding yaitu Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi. Equity crowdfunding terbilang baru di Indonesia, sampai November 2019 baru ada 2 perusahaan penyelenggara equity crowdfunding yang terdaftar dan/atau berizin di OJK yaitu, Santara dan Bizhare. Namun peluang pertumbuhan jenis investasi ini masih terbuka sangat luas, kita masih menunggu pemain-pemain baru lainnya untuk mewarnai dunia equity crowdfunding.

Pada dasarnya equity crowdfunding hampir sama dengan investasi di pasar modal, ada penerbit (perusahaan yang menawarkan saham perusahaanya), penyelenggara layanan urun dana, dan pemodal (investor). Perbedaannya, pada equity crowdfunding penawaran saham dilakukan oleh penerbit untuk menjual saham secara langsung kepada pemodal melalui sistem elektronik secara online, lalu yang diberikan kucuran dana atau selanjutnya disebut penerbit adalah perusahaan rintisan maupun UMKM dengan jumlah modal tidak lebih dari Rp30 Miliar dan bukan merupakan perusahaan terbuka. Penerbit juga harus berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan bukan perusahaan yang dikendalikan baik langsung maupun tidak langsung oleh suatu kelompok usaha atau konglomerasi.

Penerbit akan melakukan penawaran saham perusahaannya melalui penyelenggara layanan urun dana. Setelah itu pemodal dapat membeli saham perusahaan yang saat itu ditawarkan. Penawaran saham setiap penerbit melalui layanan urun dana ini berbeda dengan penawaran umum yang sebagaimana tercantum di Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Hal tersebut dikarenakan penawaran saham dilakukan melalui penyelenggara yang telah memperoleh izin dari OJK dan penawaran saham dilakukan dalam jangka waktu paling lama 12 bulan dengan total dana yang dihimpun melalui penawaran saham paling banyak Rp10 Miliar. Selain itu perbedaan lainnya, berdasarkan POJK Nomor 37/POJK.04/2018 tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding), setiap pemodal dengan penghasilan sampai dengan Rp500 Juta per tahun, maka batas maksimal investasi pemodal tersebut adalah 5% dari jumlah pendapatan per tahun. Setiap pemodal dengan penghasilan lebih dari Rp500 Juta per tahun, maka batas maksimal investasi pemodal tersebut adalah 10% dari jumlah pendapatan per tahun.

Jenis usaha penerbit bermacam-macam, kebanyakan adalah usaha yang ada di sekitar kita bahkan yang sering kita beli atau gunakan. Jadi harusnya lebih mudah untuk kita menganalisa pertumbuhan usaha tersebut, apakah menguntungkan atau tidak. Jika menguntungkan tentu Sobat berpeluang untuk mendapatkan dividen dari pertumbuhan perusahaan tersebut. Jadi Sobat harus pintar-pintar menganalisa dan melihat peluang yang ada ya, supaya keuntungan yang didapat bisa jadi passive income untuk Sobat

 

Beberapa contoh investasi seperti yang disebutkan di atas adalah jenis investasi jangka panjang jadi jangan buru-buru ingin langsung merasakan “hasilnya” ya. Sobat justru harus curiga dan waspada dengan investasi-investasi yang menjanjikan return sangat tinggi dalam waktu singkat. Sampai akhir tahun 2019 ini memang belum banyak perusahaan equity crowdfunding yang ada di Indonesia. Pastikan Sobat hanya berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang berizin dan/ atau terdaftar di OJK ya, kroscek terlebih dahulu dan jangan lupa perhatikan aspek Legal dan Logisnya.

Rating

Senang
20%
Puas
80%
Menginspirasi
0%
Tidak Peduli
0%

Daftar Perusahaan Fintech Yang Berizin dan Terdaftar di OJK per 30 Oktober 2019

Selengkapnya >>

v

Tips Terpopuler

Menjadi Millenial yang Cerdas Keuangan
Baca selengkapnya >>
SADARI, AMATI, IKUTI PERKEMBANGAN FINANCIAL TECHNOLOGY
Baca selengkapnya >>
NGGA MAU PENGAJUAN KREDIT DITOLAK? BACA ARTIKEL INI!
Baca selengkapnya >>
YAKIN SUDAH KENAL MEKANISME TRANSFER ANTAR BANK?
Baca selengkapnya >>
CARA CERDAS MERENCANAKAN KEUANGAN
Baca selengkapnya >>

Tips Terbaru

Hadiah Anti Mainstream Untuk Yang Tersayang
Baca selengkapnya >>
Resolusi Tahun Baru: Punya Passive Income
Baca selengkapnya >>
MEMPERCEPAT AKSES KEUANGAN DI DAERAH DENGAN TPAKD
Baca selengkapnya >>
Kenali Persiapan Hari Tuamu
Baca selengkapnya >>
Alat Pembayaran Makin Berkembang, Transaksi Makin Mudah, Makin Bijak Mengelolanya
Baca selengkapnya >>