Kontak | Indonesia | English | Masuk
  • Menu
  • KEUANGANKU ▾
  • SIMPANAN ▾
  • INVESTASI ▾
  • PINJAMAN ▾
  • PROTEKSI ▾
  • MATERI & ALAT ▾
  • KEGIATAN ▾
  • BERITA
  • DATA LINK

Beranda > Tips Keuangan > Artikel Tips Keuangan > HASIL SURVEI LITERASI DAN INKLUSI KEUANGAN NASIONAL MENINGKAT

Share

HASIL SURVEI LITERASI DAN INKLUSI KEUANGAN NASIONAL MENINGKAT


Hayo ngaku, zaman sekarang siapa yang masih nyimpan uang di bawah bantal? Belum punya rekening bank? Faktanya masih ada loh. Ada orang yang malas ataupun masih ragu untuk memanfaatkan lembaga keuangan. Selain itu, ada juga yang belum mengakses produk/layanan keuangan karena memang tidak tahu cara, fungsi dan manfaatnya. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat Indonesia yang pengetahuan tentang sektor keuangannya rendah. Hal ini sejalan dengan akses ke lembaga keuangan di Indonesia, yang masih kalah apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, Sobat.

Seperti yang Sobat mungkin sudah pernah dengar, akses keuangan ini memiliki peran penting dalam meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan masyarakat. Perlu diketahui, akses keuangan disini tidak terbatas hanya akses ke bank ya, Sobat, tetapi juga termasuk akses ke layanan keuangan lain seperti asuransi, pembiayaan, program pensiun, dan investasi. Menyadari pentingnya literasi dan inklusi keuangan bagi masyarakat ini, Pemerintah gencar melakukan berbagai upaya yang ditujukan untuk menaikkan tingkat pemahaman masyarakat akan sektor keuangan dan akses ke sektor keuangan (dari yang sama sekali tidak punya akses hingga menjadi nasabah atau konsumen di sektor keuangan atau istilah yang lebih sering kita dengar, dari unbankable menjadi bankable). Paling penting lagi, upaya ini juga dimaksudkan untuk menghindari masyarakat dari investasi bodong (ilegal) yang saat ini cukup ramai di Indonesia.


Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019 kemarin, tingkat literasi keuangan dan inklusi keuangan 2019 masing-masing mencapai 38,03% dan 76,19%. Angka  ini cukup menggembirakan loh, Sobat karena Indonesia telah berhasil melampaui target yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam Peraturan Presiden No. 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) sebesar 75% untuk tingkat inklusi keuangan, sementara target tingkat literasi keuangan yang ditetapkan dalam
Peraturan Presiden No. 50 tahun 2017 tentang Strategi Nasional Perlindungan Konsumen sebesar 35% juga telah terlampaui. Angka ini menunjukkan peningkatan cukup signifikan dari survei sebelumnya di tahun 2016 dimana terdapat peningkatan pemahaman keuangan (awareness) masyarakat sebesar 8,33% serta peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan sebesar 8,39%.


Survei ini merupakan kali ketiga yang dilakukan OJK yang melibatkan 12.773 responden dari 34 Provinsi dan 67 Kabupaten/Kota yang mencakup seluruh sektor jasa keuangan yang berada dibawah pengawasan OJK, mulai dari sektor Perbankan, Pasar Modal, hingga Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) seperti Perasuransian, Lembaga Pembiayaan, Dana Pensiun, Pergadaian, dan LJK formal lainnya. Pengukuran SNLIK 2019 menggunakan indikator yang sama dengan 2 survei sebelumnya di tahun 2013 dan 2016. Untuk tingkat literasi keuangan terdiri dari indikator pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap dan perilaku, sementara tingkat inklusi keuangan menggunakan parameter penggunaan (usage) produk/layanan keuangan dalam satu tahun terakhir.

Bila dilihat berdasarkan strata wilayah, untuk wilayah perkotaan tingkat literasi dan inklusi keuangan mencapai 41,41% dan 83,60%. Sementara tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat perdesaan adalah 34,53% dan 68,49%. Hal ini menunjukkan bahwa baik dari sisi pemahaman maupun penggunaan produk/layanan keuangan, masyarakat yang berada di wilayah perdesaan masih cukup tertinggal dibandingkan masyarakat yang tinggal di wilayah kota nih, Sobat.

Lebih lanjut, hasil survei OJK juga menunjukkan bahwa berdasarkan gender, tingkat literasi dan inklusi keuangan laki-laki sebesar 39,94% dan 77,24%, relatif lebih tinggi dibanding perempuan sebesar 36,13% dan 75,15%. Wahh kira-kira kenapa ya, padahal biasanya yang lebih sensitif soal uang para wanita nih hehe dan karena wanita punya tanggung jawab untuk menjadi menteri keuangan keluarganya. Ditingkatkan lagi yuk pemahamannya.


Diketahui pula, persentase literasi keuangan responden berdasarkan sektor keuangan paling tinggi diduduki oleh sektor Perbankan dengan nilai sebesar 36,12% yang disusul sektor Perasuransian sebesar 19,40%. Sementara persentase literasi keuangan terendah berdasarkan sektor jasa keuangan ada di Lembaga Keuangan Mikro sebesar 0,85%. Nah ini artinya, mayoritas pemahaman masyarakat Indonesia di sektor jasa keuangan masih terbatas di sektor perbankan. Kamu sendiri gimana nih, Sobat? Kira-kira sudah aware belum dengan sektor jasa keuangan lainnya seperti Asuransi, Pasar Modal, dll? Tidak jauh berbeda, jumlah persentase masyarakat yang menggunakan produk/layanan keuangan berdasarkan sektor jasa keuangan juga masih didominasi oleh sektor perbankan (73,88%).

Hasil survei ini dapat menjadi acuan dan refleksi diri sendiri sebenarnya sudah seberapa baik kita paham tentang sektor jasa keuangan. Ada gap yang cukup jauh antara literasi dan inklusi keuangan ibaratnya, masyarakat sudah banyak yang punya akses bahkan punya produk-produk keuangan tapi asal punya aja alias ngga paham manfaat dan risikonya ujung-ujungnya masyarakat malah merasa dirugikan. Sekarang tugas kita bersama khususnya Sobat yang masih muda-muda untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan kita maupun orang-orang di sekitar kita agar semua dapat merasakan manfaatnya dan dapat menjadi penggerak perekonomian Indonesia.

Rating

Senang
61%
Puas
4%
Menginspirasi
35%
Tidak Peduli
0%

Daftar Perusahaan Fintech Lending Yang Berizin dan Terdaftar di OJK per 5 November 2020

Selengkapnya >>

v